Penebang Kayu Dan Raja

Penebang Kayu Dan Raja

Pada suatu ketika hidulah seorang penebang kayu yang hidup di sebuah gubuk kecil di pinggiran kampung yang cukup jauh dari keramaian kota, kota tersebuat masih masuk dalam wilayah kerajaan yang cukup makmur karena dipimpin oleh kerajaan yang bijaksana sehingga setiap kebutuhan rakyatnya tercukupi dan rakyat hidup dalam damai.

Suatu ketika karena bertambahnya umur sang rajapun sakit. dan terbaring lemas di tempat tidur, kabar jatuh sakitnya raja cepat sekali menyebar dan berita simpang siurpun mulai menyebar. Berita tentang akan segera meninggalanya raja yang dicintai oleh rakyatnya itu membuat para rakyat sedih dan sebagian bertanya–tanya “apakah benar raja akan pergi, dan siapa yang akan menggantikan beliau”.

Waktu terus berlalu, kabar simpang siur yang telah menyebar semakin ramai dan tak tentu mana yang benar dan mana yang salah, dan dipihak kerajaanpun tak ada pengumuman yang keluar. Upacara pemakaman atau pengangkatan raja yang barupun tidak ada, hanya kegiatan harian seperti biasa.

Beberapa tabib terkenalpun terlihat keluar masuk istana. Sampai suatu ketika datanglah sebuah tabib yang sangat terkenal dari kerajaan tetangga dan ia mengatakan sakit sang raja sudah terlalu parah dan tidak ada satu obatpun yang bisa menyembuhkanya kecuali sebuah apel biru berbau bunga yang harum, tapi buah itu sudah lama sekali menghilang sejak beratus tahun yang lali dikarenakan rusaknya lingkungan tumbuh pohon apel itu yang dirusak oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Beberapa hari kemudia berita dari istanapun keluar yang mana istana mengadakan saimbara “Yang mampu mendampatkan apel biru berbau bunga yang harum akan diberikan satu kotak emas dan juga ladang yang cukup luas", mendengar berita tersebut para pendudukpun mulai berkelompok dan mulai mencari diberbagai kebun maupun hutan yang tersebar di kerajaan mereka, beberapa bahkan ada yng rela keluar dari kerajaan untuk mencari buah apel tersebut karena menginginkan imbalan yang besar dari raja.

Kabar tersebutpun sampai ditelinga penebang kayu, mendengar berita tersebut penebang kayu juga antusias ingin menemukan buah apel tersebut, walau begitu penebang kayu tetap berfokus ke pekerjaan sehari – harinya untuk mengumpulkan kayu untuk dijualnya di pasar kota, karena ia tau setiap pekerjaan ada manfaatnya masing-masing dan ia tidak mau meninggalkan pekerjaanya dan mengecewakan penduduk yang membutuhkan kayunya untuk kehidupan sehari-hari mereka. sampai ketika di sebuah perjalan mencari kayu, penebang kayu melihat sebuah pohon yang besar dan rindang serta berbatang kokoh, karena melihat kualitas kayu yang bagus tersebut, penebang kayupun ingin menebangnya dan ingin dia jual di pasar pikirnya bisa dijual mahal.

Ketika semua peralatan telah disiapkan untuk menebang pohon itu, mulai terdengar suara nyaring burung – burung di kerindangan daun, penebang kayupun mulai mengayunkan kapak besarnya, karena kuatnya kapakan tersebut beberapa hewan yang bersarang di akar – akar pohon tersebutpun mulai berlari keluar, melihat hal tersebut penebang kayupun mengurungkan niatnya menebang pohon tersebut karena sudah menjadi sarang banyak hewan dan tak tega untuk merusak rumah habitat mereka.

Setelah kejadian itu, penebang kayu sering mampir kepohon tersebut sekedar melepas penat maupun ingin mendengar nyanyian burung yang nyaring dan melihat kehidupan hewan – hewan yang terlihat sangat polosnya bermain di sekitar pohon tersebut, dan sesekali penebang kayu berbagi bekalnya dengan hewan dan burung di sana.



Waktu telah berlalu lama.


Suatu ketika ketika perjalanan mengumpulkan kayu, badai besar datang dan penebang kayupun berteduh di pohon kesukaanya itu, ditemani hewan di sana membuat penebang kayu tidak merasa kesepian. Karena besarnya badai yang berlangsung lama membuat penebang kayu tidak bisa pergi kemana – mana karena jalan setapak pegunungan tersebut akan sangat licin dan berbahaya untuk dilalui, apalagi mengingat usia penebang kayu yang sudah tidak muda lagi membuat dia tak cukup tenaga untuk pulang.

Hari berganti, rasa lapar menyemuti penebang kayu sempat terlintas dibenaknya untuk menyembelih salah satu kelinci di sana untuk mengisi perutnya, tapi karena sudah lama bersama rasa tak tegapun ada di benak penebang kayu dan iapun terpaksa menahan rasa laparnya sampai menunggu badai reda.

Berbeda denganya para hewan tetap bisa makan karena di sarang mereka, mereka sudah ada cukup makanan seperti dedaunan dan lainya, lapar terus terasa diperut penebang kayu. Suatu ketika ada seekor kelinci mendekatinya menggigit buah dimulutnya dan memberikanya pada penebang kayu tersebut, samar – samar dan bingung karena dia melihat sebuah apel berwarna biru “apakah ini apel busuk ?” pikirnya, “apa aku sudah begitu tua dan kelelahan sehingga tidak bisa membedakan warna” imbuhnya bingung melihat buah apel tersebut, mencium baunya, tidak tercium bau busuk sama sekali dan tanpa pikir panjang penebang kayu memakanya, setelah memakanya penebang kayupun tertidur lelap.

Setelah terbangun dan melihat badai telah reda dari beberapa waktu yang lalu, ia mulai mengingat-ingat kejadian sebelumnya dan baru sadar ternyata apel yang dicari – cari adalah apel yang barusan dia makan, bergegaslah dia melihat bekas makananya dan ternyata benar apel biru berbau harum seperti bunga, dia bergegas mencari sarang kelinci tersebut, dan dia mendapati sarang kelinci itu disebelah bekas kapak yang waktu dulu dia ingin menebang pohon besar ini, di sampingnya sarang kelinci itu ada sebuah pohon berukuran tidak cukup besar yang tertutupi akar dan cabang pohon tersebut dan ternyata dari sanalah buah apel biru itu berasal, melihatnya penebang kayupun tersenyum dan gemberi, ia bergegas memetik buah apel biru tersbut dan membawanya pulang untuk diberikan kepada sang raja.

Sesampainya di istana penebang kayupun menunjukan buah itu kepada tabib dan tabib itupun mengiyakan jika buah itu adalah buah yang di inginkan, segeralah sang raja memakanya dan beberapa hari kemudia raja sehat kembali, dan dipanggilah penebang kayupun ke istana.

Di dalam istana hendak sang raja memberi hadiah kepada penebang kayu sebagai imbalan karena telah menemukan obat langka untuk penyakitnya itu.

Ketika pemberiaan hadiah akan diberikan penebang kayupun tersenyum dan berkata.
”rajaku yang bijaksana bukan aku yang menemukan buah ini melainkan sahabatku”. Melihat jawaban dari penebang kayupun sang raja balik bertanya “dimana sahabatmu ?”. Setalah itu penebang kayu mengajak raja dan rombonganya menuju ke hutan tempat pohon besar itu berada dan menunjukan jika kelincilah yang menemukan buah tersebut.

Terlihat bahagia diwajahnya penebang kayu hanya meminta kepda rajanya agar tempat tersebut dilindungi agar tidak lagi dirusak oleh tangan-tangan tidak bertanggung jawab dan menghentikan pemburuan liar disana sebagai balas budi kepada sahabatnya yaitu kelinci tersebut. Sehingga dikemudian hari hutan dan alam masih bisa dimanfaatkan oleh penduduk maunpun kerajaan.

Dan rajapun mengiyakan dan memberi titah kepada rakyatnya untuk selalu menjaga lingkungan dan hutan agar manfaatnya bisa selalu diperolah dan terjaga sampe generasi ke generasi agar tidak punah dan mudah dicari dikemudian hari jika suatu saat dibutuhkan oleh penduduk maupun kerajaan……





Sekian.



Kisah tersebut terinspirasi oleh event marry memberi sebuah buku cerita di gam Harvest Moon : Back to nature bisa lihat video eventnya Di sini, dan pengembangan cerita di karang oleh saya sendiri hehe Apriyanto Roni Prasetyo.

Support kita yah dengan cara follow blog ini dan subscribe chanel YouTube saya ya di Hiburan Seru Fanspagenya juga sama Hiburan Seru, bisa juga follow instagram di Apriyanto Roni Prasetyo

Kawan ada kritikan dan masukan ataupun ada cerita yang ingin ditulis bisa kok di tulis disini nanti admin akan tetap mencantumkan sobat sebagai pemegang hak cipta cerita tersebut, terimakasih…………….

Komentar